Penulis : Firman Jaya Daeli (Ketua Dewan Pembina Puspolkam
Indonesia ; mantan Tim Perumus UU Kepolisian, UU Kejaksaan, UU Kehakiman, UU
MA, UU MK, UU KY, UU Pertahanan Negara, UU Pemerintahan Daerah, UU KPK ; mantan
Komisi Politik & Hukum DPR-RI ; pernah menjadi Pembicara Lemhannas RI,
Dosen Tamu Sespimti & Sespimmen POLRI, Sesko TNI AL, Sesko TNI AU, PPPJ
Badiklat Kejaksaan RI)
Jakarta, Dilipost.com - Kapolri Jenderal Polisi
Suyudi Ario Seto mengusung dan menghadirkan narasi Polri Bersama Masyarakat
menjadi sebuah Tema Utama dan Tema Besar dalam Upacara (Acara) Persidangan
Komisi III DPR-RI. Tema strategis tersebut pada dasarnya dan sejatinya merupakan
Tema Pengabdian Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto beserta keseluruhan
Jajaran Polri. Intinya dan utamanya adalah dalam konteks dan dalam kerangka
penyelenggaraan Tugas, Fungsi, Tanggungjawab, dan Kewenangan institusi Polri
beserta Jajaran.
Penyampaian Tema Visi, Misi, Program Kapolri Jenderal Polisi
Suyudi Ario Seto dalam Acara Fit and Proper Test Calon Kapolri melalui
Persidangan Parlemen (DPR-RI) merupakan jiwa dan roh serta tekad dan komitmen
Kapolri. Perspektif tersebut *secara simbolik dan otentik merupakan pernyataan
dan perjanjian Kapolri di hadapan dan kepada Rakyat, Bangsa, dan Negara
Indonesia. Perihal konstitusional yang mengingatkan dan menegaskan bahwa
Kedaulatan berada di tangan Rakyat, dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.
Negara Indonesia adalah Negara Berkedaulatan Rakyat.
Kepemimpinan dan Pengabdian Kapolri Jenderal Polisi Suyudi
Ario Seto beserta Jajaran - harus senantiasa diletakkan dan diselenggarakan
dalam sejumlah Prinsip Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara. Diletakkan dan
diselenggarakan dalam kerangka Sistem Konstitusi ; Tradisi Demokrasi ; Narasi
Republikanisme (Republik) dan Kedaulatan Rakyat (Kerakyatan) ; Supremasi Hukum
dan Supremasi Sipil ; Prinsip Kemanusian, Keadilan, Kebhinnekaan,
Kegotongroyongan Keadaban ; Ideologi Pancasila. Terminologi Polri Bersama Masyarakat
- pada dasarnya bermuatan dan berintikan pada bingkai tersebut.
Tantangan utama dan besar dari Tema Polri Bersama Masyarakat
adalah terletak pada keteguhan dan ketegasan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi
Ario Seto beserta Jajaran Polri. Terutama dan terinti pada agenda dan kebijakan
untuk selalu dan semakin menerjemahkan dan mempraxiskan makna institusi Polri
beserta Jajaran bagi Rakyat, Bangsa, dan Negara Indonesia. Sebuah dan
serangkaian keberadaan dan kehadiran institusi Polri beserta Jajaran yang
berbasis dan berorientasi luhur, mulia, dan agung. Khususnya pada bingkai
Demokratis Konstitusional dan Negara Hukum Demokratis Indonesia.
Figur Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto adalah
seorang Perwira Tinggi Polri berpangkat Jenderal Bintang Empat, lulusan Akademi
Kepolisian (Akpol) Tahun 1994. Kelahiran 14 Juli 1973 yang berarti lebih mudah
Satu Tahun dibanding Perwira Polri lulusan Akpol Tahun 1994 yang rata-rata
kelahiran Tahun 1972. Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebelumnya
pernah beberapa kali menjadi Pejabat Struktural di beberapa jabatan dalam
lingkungan Polri. Dipromosikan menjadi Perwira Tinggi berpangkat Jenderal Bintang
Satu di Mabes Polri.
Selanjutnya dipromosikan menjadi Wakil Kapolda Metro Jaya.
Kemudian dipromosikan lagi menjadi Jenderal Bintang Dua sebagai Kapolda Banten.
Selanjutnya dipromosikan lagi menjadi Jenderal Bintang Tiga sebagai Kepala
Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN-RI). Kini dipromosikan
(diusulkan, diangkat, ditetapkan, dan dilantik) oleh Presiden RI Prabowo
Subianto menjadi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) dan
menyandang pangkat Jenderal Penuh (Bintang Empat). Biasanya dalam lingkungan internal
institusi Polri dan juga bahkan dalam pergaulan lingkungan ekstenal institusi
Polri, jabatan Kapolri sering disebut dan dipanggil dengan diksi frasa TB1.
Penulis beberapa kali bertemu dan berdialog berdiskusi
sebelum ini bersama dengan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Spektrum
dan lanskap perjalanan dan pergerakan pengabdian Kapolri Jenderal Polisi Suyudi
Ario Seto sebagai lulusan Akpol dan sebagai Perwira Polri memiliki dan
mengembangkan keahlian, kematangan, kepakaran, dan pengalaman di bidang Reserse
(Reskrim). Khususnya sejak menjadi Perwira Pertama dan Perwira Menengah
mengabdi berkarier di lingkungan Polda Metro Jaya. Kualitas dialog dan diskusi
sebagai sesama sahabat baik dan lama, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto
pada dasarnya memiliki pemikiran dan pengetahuan yang aktual, konseptual,
akseptual, relevan, antisipatif, mitigatif, visioner, dan misioner.
Ketika Penulis dan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto
bertemu dan berdiskusi saat menjabat Pimpinan Satuan Wilayah (Wakil Kapolda
Metro Jaya dan Kapolda Banten), tampak dan mengemuka mengenai kemampuan dan
kematangan serta kualitas dan kapasitas pemikiran dan kepemimpinan figur
Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Utamanya perihal Posisi, Peran serta
Tugas, Fungsi, Tanggungjawab, Kewenangan Polri dalam kerangka dan konteks
Pembangunan dan Penataan Kewilayahan ; Pemajuan dan Pengembangan Kawasan Perbatasan,
Kepulauan ; Penguatan dan Pemastian Kedaulatan Bangsa. Tentu saja dalam
perspektif dan atmosfir untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat ;
melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, dan menegakkan hukum.
Kemudian juga dalam sebuah Pertemuan yang berlangsung ketika
Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto masih menjadi Kepala Badan BNN-RI -
berdialog dan berdiskusi bersama dengan Penulis. Ada keutamaan dan keutuhan
Pemikiran dan Kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam
memetakan anatomi Kejahatan Narkoba sebagai Extraordinary Crime (Kejahatan Luar
Biasa dan Terorganisir). Intisarinya adalah kehadiran Negara untuk melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman
Kejahatan Narkoba. Khususnya penguatan Kelembagaan BNN-RI beserta Jajaran untuk
melakukan Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan Narkoba. Pembangunan dan
percepatan kapasitas Kelembagaan serta penguatan dan pemberdayaan Masyarakat,
Komunitas, dan Sumber Daya Manusia.
Kelembagaan BNN-RI adalah sebuah institusi strategis yang
berada langsung dibawah Presiden RI. Kelembagaan BNN-RI dan Kepemimpinan BNN-RI
secara hierarkhis kenegaraan dan dalam sistem ketatanegaraan - bertanggungjawab
langsung kepada Presiden RI. Tentu Presiden RI sebagai Pemimpin Otoritas
Pemerintahan Kenegaraan. Kesejarahan keberadaan dan kehadiran kelembagaan
BNN-RI pada masa awal di akhir tahun 1990-an - masih dipimpin langsung oleh
Presiden RI sebagai Kepala BNN-RI (Ex Officio) berdasarkan jabatan Presiden RI.
Historisitas Kepemimpinan BNN-RI diawali dan dimulai dari
Kepemimpinan Presiden RI B.J. Habibie ; selanjutnya dengan Kepemimpinan
Presiden RI Abdurrahman Wahid : kemudian dengan Kepemimpinan Presiden RI Hj.
Megawati Soekarnoputri. Kemudian pada masa Presiden RI Hj. Megawati
Soekarnoputri di awal tahun 2000-an, kelembagaan BNN-RI divalidasi dan
mengalami proses institusionalisasi sehingga meningkat status kelembagaan
BNN-RI dalam Sistem Kenegaraan Indonesia.
Kelembagaan BNN-RI semakin diperkuat, diberdayakan, dan
dikukuhkan menjadi kelembagaan strategis, penting, dan menentukan. Sebuah
kelembagaan yang mandiri dan independen. Kepemimpinan Kepala BNN-RI tidak lagi
dan bukan lagi dipimpin langsung oleh Presiden RI. Ketentuan dan kebijakan
kenegaraan - meletakkan posisi dan kedudukan kelembagaan BNN-RI dipimpin oleh
seorang Pejabat Tinggi Negara yang diangkat, ditetapkan, dan dilantik langsung
oleh Presiden RI sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan RI.
Penulis bersama Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto
(saat masih menjadi Kepala BNN-RI) berpendapat bahwa kelembagaan BNN-RI adalah
sebuah institusi kelembagaan yang memiliki tugas utama, fungsi pokok,
tanggungjawab besar, dan kewenangan strategis. Kualitas tugas, fungsi,
tanggungjawab, dan kewenangan ketatanegaraan BNN-RI memiliki bobot
keberdampakan, kebermanfaatan, dan keberpengaruhan. Terutama dalam kerangka
untuk menyelenggarakan, melaksanakan, dan mengorganisasikan berbagai arah
kebijakan dan agenda aksi penyelenggaraan tugas, fungsi, tanggungjawab, dan
kewenangan BNN-RI.
Ekosistem dan atmosfir kejahatan Narkoba adalah sebuah dan
serangkaian Extraordinary Crime (Kejahatan Luar Biasa). Keseluruhan ekosistem
Kejahatan Narkoba amat sangat mengganggu, merusak, dan menghancurkan Masyarakat
dan Bangsa. Juga menghambat dan menghancurkan keberadaan, kedaulatan, dan
kemajuan Rakyat, Bangsa, dan Negara Indonesia. Rakyat, Masyarakat, dan Negara
Indonesia harus senantiasa dan semakin bersatu dan bergotongroyong mencegah,
melawan, dan memberantas Kejahatan Narkoba secara terstruktur, sistematis, dan
masif. Dengan demikian, harus tumbuh dan terbangun kesadaran kritis dan
keteladanan kuat dari berbagai kalangan dan semua pihak sebagai Rakyat, Bangsa,
dan Negara Indonesia.
Beberapa butir dan percik pemikiran tersebut menjadi dan
merupakan konstruksi dan substansi dalam sejumlah pertemuan diskusi dialog dan
komunikasi Penulis bersama dengan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.
Khususnya dan terutama sebelum ini pada saat sebelum Jenderal Polisi Suyudi
Ario Seto menjadi Kapolri. Kualitas, profesionalitas, integritas, kredibilitas,
dan kapasitas Kepemimpinan dan Kepribadian Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario
Seto - harus senantiasa dan semakin hadir, bermanfaat, berpengaruh, dan
berdampak bagi Polri, Rakyat, Bangsa, dan Negara. Kehadiran, kebermanfaatan,
keberpengaruhan, dan keberdampakan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto -
harus ditempatkan dan dikembangkan dalam kerangka Pembangunan Peradaban
Indonesia Raya.
Juga dalam konteks dan dengan perspektif institusi Polri
yang telah diamanatkan secara
konstitusional dalam Sistem Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Khususnya dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (UUD NRI Tahun 1945). Pemikiran tersebut mengamanatkan tugas dan
tanggungjawab strategis, penting, dan menentukan. Lagi pula untuk memastikan
institusi Polri beserta Jajaran agar senantiasa merawat, menegakkan, dan
mengukuhkan Sistem Konstitusi ; Tradisi Demokrasi ; Narasi Republikanisme
(Republik) dan Kedaulatan Rakyat (Kerakyatan) ; Supremasi Hukum dan Supremasi
Sipil ; Prinsip Kemanusian, Keadilan, Kebhinnekaan, Kegotongroyongan Keadaban ;
Ideologi Pancasila.
Institusi Polri adalah salah satu kelembagaan yang
ditentukan langsung dengan jelas dan secara tegas dalam Konstitusi Indonesia.
Sungguh-sungguh merupakan amanat dan ketentuan yang luhur dan mulia. Posisi dan
Kedudukan tersebut diberikan oleh Rakyat Indonesia (Kedaulatan Rakyat). Lagi
pula disediakan dan ditentukan dalam Konstitusi Indonesia bagi institusi Polri
beserta Jajaran. Institusi Polri beserta Jajaran semestinya dan sejatinya
mengutamakan dan memuliakan Sumbernya dan Akarnya.
Sumbernya dan Akarnya yaitu Konstitusi, Ideologi, Kedaulatan
Rakyat (Kerakyatan), Demokrasi, Keadilan, dan Hukum. Institusi Polri beserta
Jajaran tidak boleh menegasikan dan tidak boleh bertolakbelakang dengan
Sumbernya dan Akarnya. Kepemimpinan dan Keanggotaan Institusi Polri beserta
Jajaran harus menjunjung tinggi dan menegakkan serius Konstitusi, Ideologi,
Kedaulatan Rakyat (Kerakyatan), Demokrasi, Keadilan, dan Hukum sebagai Sumber
dan Akar sesungguhnya dan sejatinya institusi Polri.
Institusi Polri beserta Jajaran harus semakin menjaga
kualitas dan integritas harkat, martabat, dan marwah Peradaban Sumbernya dan
Akarnya tersebut. Institusi Polri beserta jajaran mesti selalu dan semakin
memaknai Nilai-Nilai Peradaban Negara Hukum Indonesia Demokratis
Konstitusional. Semestinya dan yang sejatinya bertumbuh dan terbangun yaitu :
Integritas dan Kualitas Bernegara Polri dalam Sinar Terang Tema Kepemimpinan
Pengabdian Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto yaitu : Polri Bersama Masyarakat.
Hakekat Doktrin NKRI, antara lain : Konstitusi UUD NRI Tahun
1945 ; Ideologi Pancasila ; Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 ; Tri Brata
Polri (Bhayangkara Negara). Integritas dan Kualitas Bernegara institusi Polri
beserta Jajaran tidak boleh menjadi instrumen pragmatis dan partisan. Namun
harus senantiasa dan semakin bisa menjadi instrumen ideologis strategis
Kerakyatan, Kebangsaan, dan Kenegaraan Indonesia. Utamanya dan intinya dalam
kerangka untuk Keindonesiaan bersama, bersatu, dan bergotongroyong.
Konstitusi Indonesia mengamanatkan dan menentukan bahwa :
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan
dan ketertiban masyarakat ; bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat
; serta menegakkan hukum. Keseluruhan konstruksi dan substansi tersebut, pada
dasarnya bersifat satu kesatuan utuh. Juga menjadi dan merupakan satu tarikan
nafas panjang dalam atmosfir yang saling berkaitan dan berkelanjutan. Bersifat
seutuhnya dan sepenuhnya secara integratif.
Institusi Polri beserta Jajaran harus selalu terikat dan
berkomitmen dengan prinsip-prinsip ketentuan konstitusional Indonesia (NKRI).
Perspektif yang teranut dan terkandung dalam materi UUD NRI Tahun 1945. Materi
ideologis strategis konstitusional tersebut, yaitu : mewujudkan dan memastikan
Kedaulatan Rakyat ; Hak-Hak konstitusional Rakyat ; Keadilan, Kemakmuran, dan
Kesejahteraan Rakyat ; Peradaban Negara Hukum Indonesia Demokratis
Konstitusional berdasarkan Proklamasi Kemerdekaan RI.
Institusi Polri memiliki tugas, fungsi, tanggungjawab, dan
kewenangan yang saling berkelindan dan berhubungan. Tentu untuk menguati dan
memaknai keberadaan, kehadiran, dan kebangkitan institusi Polri beserta
Jajaran. Filosofi penguatan dan pemaknaan institusi Polri beserta Jajaran -
pada dasarnya menjadi berarti dan berdampak. Tentu ketika diabdikan dan
diorientasikan bagi Tujuan Keluhuran dan Kemuliaan Indonesia Raya. Juga demi
untuk pemajuan dan peningkatan kualitas keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan
Indonesia.
Kemudian tentu terbangun dan menumbuh manakala diperuntukkan
menuju dan mencapai Tujuan Nasional NKRI sebagaimana termaktub dalam Pembukaan
Konstitusi Indonesia. Konsekuensinya dan implikasinya adalah dengan bertumpu
kuat dan berdiri tegak pada keberadaan, kebangkitan, dan kemajuan Polri yang
maksimal, profesional, kredibel, akuntabel, kapabel, dan akseptabel. Dengan
demikian agenda dan kebijakan Tematis : Polri Bersama Masyarakat - akan selalu
dan semakin terwujud secara otentik dan konkrit.
Institusi Polri beserta Jajaran dibawah Kepemimpinan Kapolri
Jenderal Suyudi Ario Seto harus membumikan dan mengukuhkan semangat Tema Polri
Bersama Masyarakat. Jikalau demikian maka institusi Polri beserta Jajaran harus
senantiasa dan mesti semakin mengabdikan diri dan mempersembahkan diri bagi
kemanusiaan, keadilan, keadaban, kemakmuran, dan kesejahteraan Indonesia.
Pengabdian bagi Rakyat, Bangsa, dan Negara Indonesia melalui pengorganisasian,
pembumian, dan pelaksanaan tugas, fungsi, tanggungjawab, dan kewenangan
institusi Polri beserta Jajaran.
Keberadaan dan kehadiran institusi Polri beserta Jajaran
menjadi bermakna dan semakin mengemuka dan menggema ketika Polri selalu dan
senantiasa Teguh Loyal dan Tegak Lurus". Bersikap dan bertindak loyal dan
lurus pada Pernyataan dan Cita-Cita Proklamasi Kemerdekaan RI. Lagi pula
bergerak dan berkegiatan dalam kerangka mengukuhkan dan memastikan Tujuan
Nasional Indonesia. Juga dalam kerangka mewujudkan dan membumikan Cita-Cita
Proklamasi Kemerdekaan RI dan Nilai-Nilai ideologi dan falsafah Pancasila dalam
wadah NKRI yang Bhinneka Tunggal Ika.
Juga ketika selalu setia dan senantiasa taat bergerak dan
berjalan dalam prinsip dan dengan doktrin "TRI BRATA POLRI" sebagai
Bhayangkara Negara. Hakekatnya adalah ketika Kepemimpinan Kapolri Jenderal
Polisi Suyudi Ario Seto mereformasi dan mentransformasi Institusi Polri beserta
Jajaran. Terutama dalam hal kebijakan dan agenda reformasi dan transformasi
bagi kebutuhan dan kepentingan Rakyat, Bangsa, dan Negara Indonesia. Demi untuk
menuju serangkaian kualitas kebangkitan dan kemajuan Indonesia Raya yang Merdeka,
Berdaulat, Bersatu, Adil, dan Makmur.
Prinsip mendasar dari Konstitusionalitas Polri senantiasa
meneguhkan dan mengukuhkan doktrin konstitusional bahwa Polri adalah institusi
yang berstatus independen dan bersifat mandiri. Terminologi independen dan
mandiri adalah menegakkan dan menegaskan bahwa keberadaan, status, dan
kedudukan institusi Polri "pada dasarnya terletak dan berada langsung
dibawah Presiden RI sebagai Kepala Negara. Keberadaan akan status dan kedudukan
tersebut difahami, disemangati, dan dikuati dalam konteks Konstitusi Indonesia karena
secara konstitusional Presiden RI memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD.
Konstitusionalitas institusi Polri menjadi relevan dan mendapat dasar landasan
dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia.
Ketentuan konstitusional dan makna otentik dari doktrin
tersebut adalah : Presiden RI (siapapun Presiden RI) tidak dalam kapasitas dan
tidak dengan otoritas secara "pribadi dan perseorangan". Juga
Presiden RI tidak dalam kapasitas dan otoritas secara "kelompok
kepentingan". Namun Presiden RI memiliki kapasitas dan otoritas dalam
konteks yang berstatus kenegaraan dan ketatanegaraan. Intinya dan utamanya
adalah kapasitas kedudukan dan dengan otoritas kelembagaan konstitusional
Presiden RI sebagai institusi Kepresidenan. Prinsipnya adalah dalam kerangka
bingkai dan dalam konteks Sistem Presidensial.
Kepresidenan RI dan Kepolisian Negara RI serta Kepemimpinan
Kapolri - harus senantiasa taat, tunduk, dan patuh pada Konstitusi Indonesia
dan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia. Dalam konteks konstitusionalitas
tersebut tidak boleh menggunakan, memanfaatkan, dan memperalat institusi Polri
beserta Jajaran. Juga tidak boleh menggunakan dan memanfaatkan institusi Polri
beserta Jajaran hanya demi untuk urusan dan hanya demi untuk kepentingan
memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Presiden RI (siapapun Presidennya)
juga secara jelas dan tegas tidak boleh menggunakan, memanfaatkan, dan
memperalat institusi Polri beserta Jajaran hanya karena urusan dan kepentingan
pribadi dan kelompok.
Hakekatnya adalah tidak boleh menggunakan, memanfaatkan, dan
memperalat institusi Polri beserta Jajaran - diluar dan selain urusan dan
kepentingan Rakyat, Bangsa, Negara, dan Konstitusi*. Prinsip dan doktrin
konstitusional tersebut harus senantiasa dan semakin dihadirkan dan ditumbuhkan
demi untuk Pembangunan Peradaban Negara Hukum Demokratis Konstitusional
Indonesia. Anatomi, konfigurasi, dan piramida ketaatan, ketundukan, dan
kepatuhan keseluruhan institusi Polri beserta Jajaran - hanya boleh berdasar,
berarah, dan beorientasi pada Rakyat, Bangsa, Negara, dan Konstitusi semata.
Perencanaan dan Penyelenggaraan Pembangunan Indonesia yang
Merdeka, Berdaulat, Bersatu, Adil, dan Makmur, pada dasarnya berurat berakar
pada terbangunnya Stabilitas Politik dan Keamanan Indonesia. Terminologi
politik dan keamanan dalam konteks tersebut adalah dalam kerangka pemahaman dan
penyelenggaraan politik dan keamanan secara utuh, demokratis, berkemanusiaan,
berkerakyatan, berkeadilan, dan berkeadaban. Hakekatnya adalah "Politik
Negara dan Keamanan Negara". Institusi Polri beserta Jajaran menunaikan tugas,
fungsi, tanggungjawab, dan kewenangan untuk membangun, menata, dan memelihara
sistem keamanan dan ketertiban umum (masyarakat) Indonesia.
Institusi Polri beserta Jajaran sebagai alat negara bertugas
melindungi, mengayomi, melayani masyarakat sebagaimana diamanatkan, ditentukan,
dan diatur dalam Konstitusi Indonesia. Pernyataan konstitusional tersebut
mengingatkan ulang kembali akan Tujuan Nasional NKRI, antara lain : untuk
melindungi segenap bangsa Indonesia dan segenap tumpah darah Indonesia ; untuk
memajukan kesejahteraan umum ; untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ; dan
lain-lain.
Amanat luhur dan mulia konstitusional dari Tujuan Nasional
tersebut, pada dasarnya mengingatkan dan menjadikan Negara harus senantiasa
bertugas dan bertanggungjawab untuk Hadir, Bermanfaat, Berpengaruh, dan
Berdampak bagi Rakyat, Bangsa, dan Negara Indonesia. Khususnya untuk
melindungi, mengayomi, melayani, menjamini, dan memfasilitasi Rakyat (warga
negara) dan Masyarakat Indonesia untuk melaksanakan hak-hak konstitusional
Rakyat dan Masyarakat. Pelaksanaan dan penggunaan hak-hak konstitusional
tersebut, mesti dijamin sepenuhnya dan sejatinya oleh Negara tanpa diskriminasi
dan tanpa eksploitasi. Dengan demikian terselenggara dan berlangsung dengan
baik, benar ; serta terlaksana dan terwujudkan secara aman, nyaman,
lancar, berhasil, dan maju secara
kualitatif.
Institusi Polri beserta Jajaran sebagai Alat Negara adalah
representase Negara. Institusi Polri sebagai kelembagaan representase
("wakil/perwakilan") Negara, harus senantiasa dan mesti semakin
melakukan percepatan dan peningkatan kualitas penyelenggaraan tugas, fungsi,
kewajiban, dan tanggungjawab Negara. Berdasar pada komitmen yang otentik dan
konkrit dari Negara untuk melindungi, mengayomi, melayani, menjamini, dan
memfasilitasi Rakyat (warga negara) dan Masyarakat Indonesia. Institusi Polri
beserta Jajaran sebagai alat negara bertugas dan bertanggungjawab melindungi,
mengayomi, melayani masyarakat. Perihal tersebut adalah merupakan simbol
pemakna strategis ; dan lambang penunjuk penugasan kepada institusi Polri
beserta Jajaran sebagai sebuah kelembagaan otoritatif.
Institusi Polri beserta Jajaran sebagai alat negara yang
menegakkan hukum sebagaimana diamanatkan, ditentukan, dan diatur dalam
Konstitusi Indonesia. Pernyataan konstitusional tersebut pada dasarnya
menegaskan dan mengukuhkan eksistensi, posisi, dan fungsi institusi Polri dan
Jajaran. Khususnya dalam konteks dan dalam kerangka Penegakan Hukum Indonesia.
Atmosfir keseluruhan sistem dan proses penegakan hukum Indonesia, harus
senantiasa berdasarkan UUD NRI Tahun 1945 secara konstitusional. Juga harus
selalu berlandaskan hukum dan keadilan yang substansial humanis demokratis.
Amanat dan ketentuan konstitusional dari UUD NRI Tahun 1945
- menyediakan dan memberikan "mandat" posisi, peran, tugas, fungsi,
tanggungjawab, dan kewenangan penegakan hukum kepada institusi Polri beserta
Jajaran. Terminologi mandat konstitusional tersebut, khususnya berkaitan dan
berintikan pada infrastruktur, pranata, dan ekosistem penegakan hukum oleh
institusi Polri beserta Jajaran. Perihal tersebut sangat strategis, menentukan,
berpengaruh, dan berdampak. Pesan pernyataan konstitusional beserta konsekuensi
tersebut, pada dasarnya mengingatkan agar institusi Polri beserta Jajaran harus
senantiasa memaknainya secara bertanggungjawab dan mesti selalu
mempertanggungjawabkannya secara konsisten dan konsekuen.
Pemaknaan tersebut berurat berakar pada kualitas dukungan
dari relationship dan partnership institusi Polri beserta Jajaran. Bersifat dan
berkarakter otentik dan konkrit dengan etos, jiwa, roh, dan semangat
"Indonesia Bergotongroyong". Konstruksi dan substansi tersebut adalah
untuk menuju dan membangun Indonesia. Konstitusionalitas institusi Polri
beserta Jajaran dan agenda Pembangunan Peradaban Negara Hukum Demokratis
Konstitusional Indonesia, semakin bermakna strategis substansial. Hakekatnya
adalah untuk membangun dan memajukan kualitas Indonesia Raya yang Merdeka,
Berdaulat, Bersatu, Adil, dan Makmur. Berbasis pada : *Polri Bersama Masyarakat
sebagai Tema Utama dan Tema Besar serta Spektrum dan Lanskap Kepemimpinan
Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Juga institusi Polri beserta Jajaran
sebagai Bhayangkara Negara.
Jakarta, Indonesia, Kamis, 1 Oktober 2026
FOLLOW THE dilipost.com AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow dilipost.com on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram