dilipost.com
ADVERTISEMENT

Headlines News

Ads

Ekonomi

Video

Tuesday, 3 November 2026

Ketika Layar Menggantikan Cermin

Oleh: Ricardo Sila

Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang


Di tengah kemajuan teknologi dewasa ini, media sosial tidak lagi sekadar alat komunikasi. Ia  tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat dielakkan lagi dari kehidupan manusia dan telah menjelma menjadi bagian terpenting dalam aktivitas sehari-hari. Media sosial telah menjadi “cermin palsu” yang membentuk identitas manusia modern. Atau seperti yang dikatakan Jean Baudrillard sebagai dunia hiperrealitas. Pengguna atas media sosial itu sendiri pun menuntut tanggung jawab moral agar manusia tidak terjebak dalam realitas semu.

Berdasarkan  laporan “DATAREPORTAL 2021”  melaporkan bahwa dari total  1,33  ribu penduduk di Timor Leste, 599,7 ribu penduduk telah menggunakan media sosial. Jumlah ini melonjak menjadi 742,4 ribu pengguna pada tahun 2024. Data ini menunjukkan peningkatan pengguna media sosial berlangsung pesat. Hal ini telah menjadi realitas yang tidak dapat dipungkiri dari kehidupan manusia zaman ini.

Data ini cukup menggambarkan realitas; banyak postingan dalam berbagai platform sosial media (Instagram, Tik-Tok, Facebook dll) dengan berbagai gaya. Ruang sosial media sebagai ruang bebas menghimpun dan merangkum semua postingan yang diunggah. Di dalamnya terdapat banyak konten edukasi, inspirasi, hiburan dan lain sebagainya. Tidak dipungkiri bahwa di tempat yang sama ada pula konten-konten yang berbau amoral, kurang etis dan hal negatif lainnya. Mengacu dari realitas ini, wajah dunia kita tampak jelas dibaluti dengan aroma hiperrealitas. Sadar atau tidak kita sedang berada dalam cengkeraman kecerdasan buatan (AI).

Hiperrealitas menurut Jean Baudrillard

Di era kejayaan teknologi komunikasi dan masa kecerdasan artifisial,  dunia telah mengalami transformasi yang signifikan. Telah tercipta sebuah realitas baru dengan meniru realitas itu sendiri (asli) bahkan melampaui realitas yang sebenarnya yang disebut hiperrealitas oleh Baudrillard. Kita tengah berada pada satu fase dimana kita tidak lagi menggunakan cermin untuk melihat keaslian diri, melainkan melalui layar gawai. Realnya hasil modifikasi dan konstruksi citra melalui layar tampak lebih elegan dan berkelas dibandingkan pantulan cermin yang terlihat  orisinal dan autentik, tetapi dianggap kurang menarik dan menawan.

Bagi Baudrillard fenomena sosial yang terjadi  pada masyarakat post modern, melalui iklan tentang barang yang dikonsumsi membentuk identitas atau citra diri seseorang. Ia melihat bahwa banyak orang  terlebih para konsumen ingin terlihat berbeda dan memiliki identitas yang menciptakan citra baru melalui produk tertentu. Realitas masyarakat konsumtif keberadaannya bukan diukur lagi dengan pikiran “Aku berpikir maka aku ada”  melainkan “Apa yang aku konsumsi itulah yang menentukan sia aku”. Nilai guna telah diganti dengan nilai simbolik. Objek yang dikonsumsi bukan karena nilai bergunanya dan harganya tetapi justru perannya dalam merekonstruksi identitas baru dan makna citra diri. Dengan  orientasi ini membawa manusia pada sikap konsumtif. Kita seolah dipaksa untuk membeli barang bukan karena butuh melainkan demi mengikuti trend. Sehingga kebutuhan itu,  bukan lagi kita yang menjadi subjek atas produk, tetapi justru objek yang menggantikan kita sebagai subjek, oleh karena mau mengikuti trend.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kita sedang hidup di dalam apa yang disebut Baudrillard sebagai hiperrealitas, dimana manusia lebih percaya pada citra dan simbol daripada kebenaran. Akibatnya, batas antara nyata dan fantasi, benar dan salah, serta asli dan palsu menjadi kabur. Dalam situasi ini, yang palsu bisa terlihat lebih nyata dan kebohongan tampaknya lebih benar daripada kebenaran sehingga berita palsu sering lebih dipercaya karena orang lebih tertarik pada penampilan dan pesan berita yang menarik daripada fakta sebenarnya. Karena itu perlu disikapi dengan bijak sehingga tidak ada spekulasi untuk mengacaukan orang lain menggunakan tanda terlebih dalam dunia maya.

 

Dampak Media Sosial

Dengan perkembangan teknologi saat ini, terdapat peluang bagi pengguna untuk berkembang di masa depan. Perlu diakui bahwa kemajuan teknologi sangat membantu manusia, terutama dalam mengakses informasi dengan cepat, mempermudah komunikasi dan konektivitas dengan keluarga, teman maupun rekan kerja, serta memfasilitasi pembelajaran dan edukasi, dan lain sebagainya. Media sosial juga menyediakan platform seperti Instagram, Tik-Tok, Facebook dll, bagi kita untuk menjalankan bisnis, mengekspresikan diri, dan berkreasi melalui berbagai konten digital. Maka dalam situasi ini kita ditantang untuk mengasah talenta dan kreativitas yang dimiliki agar dapat menghasilkan karya yang berkualitas, sebagai wujud partisipasi dan pemanfaatan peluang yang ditawarkan dunia digital secara optimal.

Sebaliknya selain adanya peluang, terdapat pula dampak negatif jika media sosial tidak digunakan dengan baik. Melihat generasi sekarang lahir dalam masa kejayaan Sosmed melalui Handphone, misalnya, telah memberi pengaruh yang cukup amat besar. Handphone seolah-olah menjadi “pengasuh” yang tulen bagi anak-anak dalam keluarga. Dampaknya pun acapkali memprihatinkan, misalnya membuat relasi humanis di antara sesama semakin melemah. Kurangnya komunikasi “face to face” dengan sesama, atau dengan slogan yang amat familiar “Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Handphone menjadi alat penghibur namun menurunkan daya kognitif anak pada masa pertumbuhannya ketika penggunaan lebih dari 7 jam/hari. Handphone juga menjadi sahabat yang setia tapi menimbulkan kecanduan sehingga menimbulkan sikap koruptif  atas waktu. Tak heran bahwa dewasa ini banyak anak yang  membuang banyak waktu dengan Handphone ketimbang membuang waktu untuk bermain dengan anak yang lain. Pada akhirnya anak lebih nyaman hidup sendiri ketimbang hidup dalam komunitas, sehingga menimbulkan proses eksplorasi diri anak terganggu dan menimbulkan kebingungan identitas (Erikson E.H 1968, Identity youth and Crisis). 

Tak jarang banyak kasus yang ditemukan misalnya, penyebaran informasi palsu (Hoaks). Berita itu dengan cepat beredar namun tidak benar. Maka terjadilah kesalahpahaman, kepanikan dan bahkan konflik dalam masyarakat. Cyberbullying (perundingan daring), di mana terjadi komentar negatif terhadap orang, pelecehan di media sosial, yang kemudian dapat melukai perasaan seseorang. Hal ini akan berdampak buruk pada kesehatan mental korban.  Fenomena ini pula menunjukkan bahwa manusia sedang hidup dalam persimpangan pilihan. Jika tidak dipilih dan ditanggapi dengan bijak maka manusia akan menjadi hamba bagi teknologi. Banyak orang di sekitar kita, atau mungkin kita sendiri masih belum bisa mengendalikan diri dalam menggunakan sosial media.

Percikan Refleksi Moral Gereja

Menghadapi situasi ini manusia dipanggil untuk menjadi agen perubahan yang bijak dalam menggunakan teknologi. Kehadiran teknologi  pada dasarnya netral, yang menentukan adalah bagaimana cara manusia menggunakannya. Manusia memiliki peluang untuk mengubah dunia dengan kemampuan yang dimiliki dan dibantu oleh teknologi yang ada. Dalam Laudato Si (no. 102) Paus Fransiskus menegaskan bahwa teknologi harus menjadi tanggung jawab moral agar tidak disalahgunakan supaya kemajuan ini bukan untuk  merusak dan mengeksploitasi alam serta kehidupan melainkan mengindahkan dan melestarikan dunia kita

Selain itu  Gereja juga menunjukkan perhatiannya terhadap perkembangan media, melalui dokumen Konsili Vatikan II, “Inter Mirifica” untuk mengapresiasi dan mengagumi penemuan-penemuan baru terkait  teknologi  oleh kecerdasan alam tercipta pada diri manusia. Dengan itu, ibunda Gereja menyambut penemuan-penemuan ini dengan gembira dan berusaha untuk menggerakkan manusia mencapai suatu komunikasi yang otentik dan orisinal  dalam media cetak, sinema, radio dll, dalam karya pewartaan kabar baik. Oleh karena itu sebagai makhluk sosial hendaknya manusia menjunjung tinggi nilai-nilai etis, moral (budaya, sosial dan agama) dan kebenaran (IM.4) , agar tidak menodai hak setiap orang atas suatu informasi dan mengetahui kewajiban-kewajiban penggunaan, supaya tidak melanggar hukum dan ketentuan moral yang ada dalam kompleksitas dunia kita.

Persoalan bukan ada pada media tetapi pada manusia. Pertanyaannya kembali kepada kita; apakah kita yang menguasai layar ataukah sebaliknya. Dengan ini kita semua diundang untuk menyebarluaskan pandangan-pandangan umum kita sesuai dengan  kebenaran, sehingga media komunikasi sebagai ruang publik yang hendaknya menjadi oase moralitas kita dalam mewartakan kebenaran, keadilan, edukasi dan etiket dalam menggunakan media. Mendiang Paus Fransiskus pernah berpesan bahwa, “ media sosial dapat memfasilitasi hubungan, tetapi juga dapat memicu permusuhan yang tidak berdasar. Secara moral, kita yang harus bertanya apakah postingan saya membangun jembatan atau justru membakar rumah sesama”.

Tentu seruan ini tidak hanya menjadi pedoman bagi orang-orang Katolik melainkan juga menjadi wadah bagi siapa saja untuk menimba nilai-nilai moral yang ada dan menjadikan warta gembira bagi  siapa saja serta bagi lingkungan sekitar kita.  Dengan demikian kita menjadi subjek kebenaran dan validitas informan bagi kehidupan manusia sehari-hari dan melestarikan keindahan  hidup itu sendiri, bukan menjadi subjek yang merusak alam dan mengeksploitasi kehidupan.

Kita sebagai orang beriman, kita diajak untuk menghidupi kebajikan Kristiani; kasih, sukacita, damai sejahtera, murah hati, rendah hati, damai sejahtera penguasaan diri, kesetiaan (bdk.Gal.5:22-23). Kita diajak pula untuk melihat nilai-nilai positif  dalam  menggunakan simbol dan lihai dalam mengunggah sosial media. Kita mesti berani mengatakan tidak kepada kecenderungan manusiawi kita dalam mengikuti trend. Bekerja untuk hidup yang layak lebih mulia daripada mengonsumsi suatu simbol yang hanya memberi kesenangan sesaat. Membantu mereka yang kurang mampu lebih mulia daripada menghimpun kekayaan hanya demi ego pribadi. Hidup berbaur dengan mereka yang kotor dan terpinggirkan lebih mulia daripada memasang standar ekonomi dalam kehidupan bersama. Hidup sederhana lebih mulia daripada memiliki segala hal dan menutup mata terhadap mereka yang menderita dan membutuhkan uluran tangan dari kita.  Berlaku adil dalam panggilan kita lebih mulia daripada serakah pada milik orang lain.

Akhirnya kita dipanggil untuk menentang nilai amoral, kurang etis dan hal-hal negatif lainnya dalam hidup kita. Kita dipanggil untuk mewartakan kebenaran dalam menggunakan sosial media. Berani membagikan dengan lemah lembut harapan yang ada dalam hati kita kepada orang lain. Hendaknya kita menggunakan telinga hati mendengarkan jeritan sesama di sekitar kita. Dengan demikian kita bertumbuh dan berkembang bersama menuju pintu harapan yang mulia yang menantikan kita semua di hari-hari yang akan datang.


Thursday, 29 October 2026

Aksi Salib Merah Viral, Ketua PP PMKRI Yohanes Tola: Ini Lahir dari Ketulusan dan Kepedulian Sosial


JAKARTA, 28 OKTOBER 2026— 


Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) periode 2026-2028, dibawah pimpinan Ketua Presidium, Yonas Tola, memprakarsai lahirnya gerakan spiritual dan sosial bertajuk "Salib Merah" dalam aksi unjuk rasa memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 yang digelar di bundaran HI.


Simbol Salib Merah ini hadir sebagai bentuk keprihatinan mendalam atas kondisi bangsa hari ini yang sedang diuji oleh krisis multidimensi yang memicu keresahan mendalam di kalangan masyarakat bawah, terutama akibat himpitan ekonomi yang kian berat, daya beli masyarakat terus merosot tajam, defisit lapangan kerja layak, kemorosotan hukum, korupsi serta  oleh berbagi persoalan kemanusiaan dan lingkungan.


Dalam aksi tersebut, para pengurus dan kader PMKRI memikul sebatang kayu salib besar berwarna merah darah. Salib merah dipanggul secara bergantian sebagai simbol perlawanan non-kekerasan (non-violent resistance), sekaligus perlambang pengorbanan, penderitaan, dan jeritan air mata rakyat miskin serta kaum tertindas dari pelosok negeri.


Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI Periode 2026–2028, Yohanes Tola menegaskan bahwa aksi Salib Merah PMKRI ini bukan sekadar teatrikal jalanan, melainkan manifestasi iman dan tanggung jawab moral-intelektual kader Katolik di tengah situasi krisis bangsa.


"Kayu salib ini berat, namun beratnya kayu salib tidak seberapa dibanding beban hidup rakyat kecil hari ini. Ketika hukum bertukar rupa menjadi komoditas dan etika bernegara dilucuti, PMKRI memilih jalan perlawanan non-kekerasan, sebagaimana keteladanan Kristus yang berani memikul penderitaan demi meruntuhkan tembok ketidakadilan," ujar Yohanes Tola.




Yohanes menambahkan bahwa nilai ajaran sosial Gereja Katolik (Gaudium et Spes) mengamanatkan bahwa duka dan kecemasan masyarakat miskin adalah duka dan kecemasan murid-murid Kristus. Oleh karena itu, PMKRI menolak untuk tinggal diam melihat martabat manusia diinjak-injak atas nama pembangunan yang tidak berkeadilan.


Sementara itu, Presidium Gerakan Kemasyarakatan PP PMKRI, Natael Bremana, menyoroti keterdesakan moral yang melatarbelakangi aksi Salib Merah ini. Ia juga mengajak seluruh cabang PMKRI di berbagai seantero Nusantara untuk bersama-sama menggemakan nuansa Salip Merah. Menurutnya, simbol Salip Merah PMKRI ini bukan sekadar lambang, melainkan bentuk pengorbanan, cinta kasih, dan ketulusan untuk hadir bagi sesama yang sedang terluka dan membutuhkan uluran tangan.


 "Salib Merah ini murni lahir dari ketulusan dan kepedulian sosial. Ini bukanlah gerakan politik partisan, ini adalah bahasa nurani kami sebagai kader PMKRI untuk berjuang dan terlibat pada yang tertindas oleh kebijakan negara," ungkap Natanael.


Melalui nuansa Salip Merah, PP PMKRI berharap setiap DPC PMKRI di daerah dapat merangkul masyarakat setempat dengan kelembutan dan kesederhanaan. Gerakan ini menjadi pengingat bahwa di atas segalanya, persaudaraan dan kemanusiaan adalah hal terindah yang harus terus dijaga bersama.

Wednesday, 28 October 2026

Kepala BNPPDT Melakukan Jajaki Paspor Gratis untuk Warga Perbatasan Indonesia-Timor Leste

Foto: ANTARA

Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil (BNPPDT), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, mengawasi proses pemberian paspor gratis kepada penduduk yang tinggal di perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Untuk membantu warga yang membutuhkan dokumen perjalanan, rencana itu akan didiskusikan dengan Direktorat Jenderal Imigrasi.

Selasa, 27 Oktober, Maruli menyampaikan rencana ini kepada para kepala Pos Lintas Batas Negara (PLBN) secara online.

"Contohnya nanti ada paspor, mungkin saya nanti hubungi Dirjen Imigrasi supaya ada gratis berapa ribu," kata Maruli, dikutip dari Antara, Rabu, 28 Oktober.

Namun, rencana tersebut hanyalah penjajakan. Belum ada keputusan mengenai waktu pelaksanaan paspor dan berapa banyak paspor yang akan diberikan secara gratis.

Maruli juga meminta para kepala PLBN melaporkan kebutuhan masyarakat di sekitar perbatasan, terutama akses air bersih dan jembatan.

Dia berpendapat bahwa pengelolaan perbatasan harus mempertimbangkan masalah yang dihadapi penduduk di wilayah terpencil daripada operasi pos lintas batas.

Maruli menyatakan bahwa dia telah menerima banyak laporan tentang kebutuhan infrastruktur dan air bersih. Akibatnya, setiap PLBN diminta untuk mengidentifikasi masalah yang ada di wilayahnya sehingga penanganannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Salah satu hal yang menarik perhatian adalah pembangunan jembatan sederhana yang panjangnya sekitar 15 meter.

Maruli melihat kemungkinan bahwa pembangunan jembatan dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan Komando Daerah Militer (Kodam) setempat.

Untuk program jembatan dan air bersih, tolong catat di daerah. Dia berkata, "Khususnya jembatan-jembatan sederhana yang mungkin sekitar 15 meter, kita akan bisa kerjakan sendiri nanti, bekerja sama dengan Kodam di daerah-daerah ini."

Maruli menekankan masalah sampah di wilayah PLBN selain infrastruktur. Salah satu opsi penanganan yang dia tawarkan adalah insinerator atau alat pembakar sampah.

Namun demikian, penggunaan teknologi harus tetap memperhatikan peraturan yang berlaku.

Selain itu, Maruli mengusulkan teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar solar. Selain itu, rencana ini harus mempertimbangkan peraturan dan kesesuaian teknologi dengan kondisi di wilayah perbatasan.

 

Dia mengklaim bahwa masalah yang dihadapi setiap wilayah tidak selalu identik. Akibatnya, laporan dari para kepala PLBN diperlukan untuk menentukan tindakan yang tepat sesuai dengan kebutuhan.

Marili menyatakan bahwa pihaknya memiliki beberapa ide untuk mengatasi masalah yang diajukan para kepala PLBN.

"Secara umum saya lihat, saya ucapkan terima kasih, semua sudah bekerja dengan baik. Memang ada beberapa yang secara umum saya sudah punya ide untuk bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada," katanya.

Saat ini, BNPPDT mengelola 15 PLBN terpadu yang tersebar di kawasan perbatasan Indonesia. Hasil pendataan kebutuhan warga, termasuk jembatan dan air bersih, akan menjadi bahan penyusunan langkah penanganan di masing-masing wilayah.

 

Friday, 23 October 2026

HOAKS Presiden Prabowo Menyalurkan Pemberian Bantuan MBG ke Timor Leste


DILIPOST.COM
- Salah satu unggahan yang tersebar luas di Threads menggambarkan keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke Timor-Leste, atas permintaan Presiden dari Timor-Leste José Ramos-Horta.

Meskipun demikian, klaim tersebut tidak benar. Sebagaimana dilaporkan oleh antaranews.com pada Rabu (21/10/26), pertemuan sebelumnya antara Presiden Prabowo dan Presiden José Ramos-Horta dari Timor Leste berlangsung pada Jumat 28 Agustus 2026.

Di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Presiden Prabowo menerima Ramos-Horta, yang memimpin delegasi para peraih Nobel.

Dalam berita tentang pertemuan kedua kepala negara, tidak ada indikasi bahwa Ramos-Horta meminta penerapan program MBG di negaranya atau bahwa Presiden Prabowo menyetujui penyebaran program tersebut.

Nah Itu Dia!!!

Teknologi

International

Entertainment


Opini

Lifestyle


Travel

Politik


Olahraga

© Copyright . dilipost.com | All Right Reserved

Develop by Micro IT .NET Technology