Oleh: Ricardo Sila
Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang
Di
tengah kemajuan teknologi dewasa ini, media sosial tidak lagi sekadar alat
komunikasi. Ia tidak dapat dipisahkan
dan tidak dapat dielakkan lagi dari kehidupan manusia dan telah menjelma
menjadi bagian terpenting dalam aktivitas sehari-hari. Media sosial telah
menjadi “cermin palsu” yang membentuk identitas manusia modern. Atau seperti
yang dikatakan Jean Baudrillard sebagai dunia hiperrealitas. Pengguna
atas media sosial itu sendiri pun menuntut tanggung jawab moral agar manusia
tidak terjebak dalam realitas semu.
Berdasarkan laporan “DATAREPORTAL
2021” melaporkan bahwa dari
total 1,33 ribu penduduk di Timor Leste, 599,7 ribu
penduduk telah menggunakan media sosial. Jumlah ini melonjak menjadi 742,4 ribu
pengguna pada tahun 2024. Data ini menunjukkan peningkatan pengguna media
sosial berlangsung pesat. Hal ini telah menjadi realitas yang tidak dapat
dipungkiri dari kehidupan manusia zaman ini.
Data ini
cukup menggambarkan realitas; banyak postingan dalam berbagai platform sosial
media (Instagram, Tik-Tok, Facebook dll) dengan berbagai gaya. Ruang sosial
media sebagai ruang bebas menghimpun dan merangkum semua postingan yang
diunggah. Di dalamnya terdapat banyak konten edukasi, inspirasi, hiburan dan
lain sebagainya. Tidak dipungkiri bahwa di tempat yang sama ada pula
konten-konten yang berbau amoral, kurang etis dan hal negatif lainnya. Mengacu
dari realitas ini, wajah dunia kita tampak jelas dibaluti dengan aroma
hiperrealitas. Sadar atau tidak kita sedang berada dalam cengkeraman kecerdasan
buatan (AI).
Hiperrealitas
menurut Jean Baudrillard
Di era
kejayaan teknologi komunikasi dan masa kecerdasan artifisial, dunia telah mengalami transformasi yang
signifikan. Telah tercipta sebuah realitas baru dengan meniru realitas itu
sendiri (asli) bahkan melampaui realitas yang sebenarnya yang disebut hiperrealitas
oleh Baudrillard. Kita tengah berada pada satu fase dimana kita tidak lagi
menggunakan cermin untuk melihat keaslian diri, melainkan melalui layar gawai.
Realnya hasil modifikasi dan konstruksi citra melalui layar tampak lebih elegan
dan berkelas dibandingkan pantulan cermin yang terlihat orisinal dan autentik, tetapi dianggap kurang
menarik dan menawan.
Bagi
Baudrillard fenomena sosial yang terjadi
pada masyarakat post modern, melalui iklan tentang barang yang
dikonsumsi membentuk identitas atau citra diri seseorang. Ia melihat bahwa
banyak orang terlebih para konsumen
ingin terlihat berbeda dan memiliki identitas yang menciptakan citra baru
melalui produk tertentu. Realitas masyarakat konsumtif keberadaannya bukan
diukur lagi dengan pikiran “Aku berpikir maka aku ada” melainkan “Apa yang aku konsumsi itulah yang
menentukan sia aku”. Nilai guna telah diganti dengan nilai simbolik. Objek yang
dikonsumsi bukan karena nilai bergunanya dan harganya tetapi justru perannya
dalam merekonstruksi identitas baru dan makna citra diri. Dengan orientasi ini membawa manusia pada sikap
konsumtif. Kita seolah dipaksa untuk membeli barang bukan karena butuh
melainkan demi mengikuti trend. Sehingga kebutuhan itu, bukan lagi kita yang menjadi subjek atas
produk, tetapi justru objek yang menggantikan kita sebagai subjek, oleh karena
mau mengikuti trend.
Fenomena
ini menunjukkan bahwa kita sedang hidup di dalam apa yang disebut Baudrillard
sebagai hiperrealitas, dimana manusia lebih percaya pada citra dan
simbol daripada kebenaran. Akibatnya, batas antara nyata dan fantasi, benar dan
salah, serta asli dan palsu menjadi kabur. Dalam situasi ini, yang palsu bisa
terlihat lebih nyata dan kebohongan tampaknya lebih benar daripada kebenaran
sehingga berita palsu sering lebih dipercaya karena orang lebih tertarik pada
penampilan dan pesan berita yang menarik daripada fakta sebenarnya. Karena itu
perlu disikapi dengan bijak sehingga tidak ada spekulasi untuk mengacaukan
orang lain menggunakan tanda terlebih dalam dunia maya.
Dampak
Media Sosial
Dengan
perkembangan teknologi saat ini, terdapat peluang bagi pengguna untuk
berkembang di masa depan. Perlu diakui bahwa kemajuan teknologi sangat membantu
manusia, terutama dalam mengakses informasi dengan cepat, mempermudah
komunikasi dan konektivitas dengan keluarga, teman maupun rekan kerja, serta
memfasilitasi pembelajaran dan edukasi, dan lain sebagainya. Media sosial juga
menyediakan platform seperti Instagram, Tik-Tok, Facebook dll, bagi kita untuk
menjalankan bisnis, mengekspresikan diri, dan berkreasi melalui berbagai konten
digital. Maka dalam situasi ini kita ditantang untuk mengasah talenta dan
kreativitas yang dimiliki agar dapat menghasilkan karya yang berkualitas,
sebagai wujud partisipasi dan pemanfaatan peluang yang ditawarkan dunia digital
secara optimal.
Sebaliknya
selain adanya peluang, terdapat pula dampak negatif jika media sosial tidak
digunakan dengan baik. Melihat generasi sekarang lahir dalam masa kejayaan Sosmed
melalui Handphone, misalnya, telah memberi pengaruh yang cukup amat
besar. Handphone seolah-olah menjadi “pengasuh” yang tulen bagi
anak-anak dalam keluarga. Dampaknya pun acapkali memprihatinkan, misalnya
membuat relasi humanis di antara sesama semakin melemah. Kurangnya komunikasi “face
to face” dengan sesama, atau dengan slogan yang amat familiar “Mendekatkan
yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Handphone menjadi alat penghibur
namun menurunkan daya kognitif anak pada masa pertumbuhannya ketika penggunaan
lebih dari 7 jam/hari. Handphone juga menjadi sahabat yang setia tapi
menimbulkan kecanduan sehingga menimbulkan sikap koruptif atas waktu. Tak heran bahwa dewasa ini banyak
anak yang membuang banyak waktu dengan Handphone
ketimbang membuang waktu untuk bermain dengan anak yang lain. Pada akhirnya
anak lebih nyaman hidup sendiri ketimbang hidup dalam komunitas, sehingga
menimbulkan proses eksplorasi diri anak terganggu dan menimbulkan kebingungan
identitas (Erikson E.H 1968, Identity youth and Crisis).
Tak
jarang banyak kasus yang ditemukan misalnya, penyebaran informasi palsu
(Hoaks). Berita itu dengan cepat beredar namun tidak benar. Maka terjadilah
kesalahpahaman, kepanikan dan bahkan konflik dalam masyarakat. Cyberbullying
(perundingan daring), di mana terjadi komentar negatif terhadap orang,
pelecehan di media sosial, yang kemudian dapat melukai perasaan seseorang. Hal
ini akan berdampak buruk pada kesehatan mental korban. Fenomena ini pula menunjukkan bahwa manusia
sedang hidup dalam persimpangan pilihan. Jika tidak dipilih dan ditanggapi
dengan bijak maka manusia akan menjadi hamba bagi teknologi. Banyak orang di sekitar
kita, atau mungkin kita sendiri masih belum bisa mengendalikan diri dalam
menggunakan sosial media.
Percikan
Refleksi Moral Gereja
Menghadapi
situasi ini manusia dipanggil untuk menjadi agen perubahan yang bijak dalam
menggunakan teknologi. Kehadiran teknologi
pada dasarnya netral, yang menentukan adalah bagaimana cara manusia
menggunakannya. Manusia memiliki peluang untuk mengubah dunia dengan kemampuan
yang dimiliki dan dibantu oleh teknologi yang ada. Dalam Laudato Si (no.
102) Paus Fransiskus menegaskan bahwa teknologi harus menjadi tanggung jawab
moral agar tidak disalahgunakan supaya kemajuan ini bukan untuk merusak dan mengeksploitasi alam serta
kehidupan melainkan mengindahkan dan melestarikan dunia kita
Selain
itu Gereja juga menunjukkan perhatiannya
terhadap perkembangan media, melalui dokumen Konsili Vatikan II, “Inter
Mirifica” untuk mengapresiasi dan mengagumi penemuan-penemuan baru
terkait teknologi oleh kecerdasan alam tercipta pada diri
manusia. Dengan itu, ibunda Gereja menyambut penemuan-penemuan ini dengan
gembira dan berusaha untuk menggerakkan manusia mencapai suatu komunikasi yang
otentik dan orisinal dalam media cetak,
sinema, radio dll, dalam karya pewartaan kabar baik. Oleh karena itu sebagai
makhluk sosial hendaknya manusia menjunjung tinggi nilai-nilai etis, moral
(budaya, sosial dan agama) dan kebenaran (IM.4) , agar tidak menodai hak setiap
orang atas suatu informasi dan mengetahui kewajiban-kewajiban penggunaan,
supaya tidak melanggar hukum dan ketentuan moral yang ada dalam kompleksitas
dunia kita.
Persoalan
bukan ada pada media tetapi pada manusia. Pertanyaannya kembali kepada kita;
apakah kita yang menguasai layar ataukah sebaliknya. Dengan ini kita semua
diundang untuk menyebarluaskan pandangan-pandangan umum kita sesuai dengan kebenaran, sehingga media komunikasi sebagai
ruang publik yang hendaknya menjadi oase moralitas kita dalam mewartakan
kebenaran, keadilan, edukasi dan etiket dalam menggunakan media. Mendiang Paus
Fransiskus pernah berpesan bahwa, “ media sosial dapat memfasilitasi hubungan,
tetapi juga dapat memicu permusuhan yang tidak berdasar. Secara moral, kita
yang harus bertanya apakah postingan saya membangun jembatan atau justru
membakar rumah sesama”.
Tentu
seruan ini tidak hanya menjadi pedoman bagi orang-orang Katolik melainkan juga
menjadi wadah bagi siapa saja untuk menimba nilai-nilai moral yang ada dan menjadikan
warta gembira bagi siapa saja serta bagi
lingkungan sekitar kita. Dengan demikian
kita menjadi subjek kebenaran dan validitas informan bagi kehidupan manusia
sehari-hari dan melestarikan keindahan
hidup itu sendiri, bukan menjadi subjek yang merusak alam dan
mengeksploitasi kehidupan.
Kita sebagai
orang beriman, kita diajak untuk menghidupi kebajikan Kristiani; kasih,
sukacita, damai sejahtera, murah hati, rendah hati, damai sejahtera penguasaan
diri, kesetiaan (bdk.Gal.5:22-23). Kita diajak pula untuk melihat nilai-nilai
positif dalam menggunakan simbol dan lihai dalam mengunggah
sosial media. Kita mesti berani mengatakan tidak kepada kecenderungan manusiawi
kita dalam mengikuti trend. Bekerja untuk hidup yang layak lebih mulia daripada
mengonsumsi suatu simbol yang hanya memberi kesenangan sesaat. Membantu mereka
yang kurang mampu lebih mulia daripada menghimpun kekayaan hanya demi ego
pribadi. Hidup berbaur dengan mereka yang kotor dan terpinggirkan lebih mulia
daripada memasang standar ekonomi dalam kehidupan bersama. Hidup sederhana
lebih mulia daripada memiliki segala hal dan menutup mata terhadap mereka yang
menderita dan membutuhkan uluran tangan dari kita. Berlaku adil dalam panggilan kita lebih mulia
daripada serakah pada milik orang lain.
Akhirnya
kita dipanggil untuk menentang nilai amoral, kurang etis dan hal-hal negatif
lainnya dalam hidup kita. Kita dipanggil untuk mewartakan kebenaran dalam
menggunakan sosial media. Berani membagikan dengan lemah lembut harapan yang
ada dalam hati kita kepada orang lain. Hendaknya kita menggunakan telinga hati mendengarkan
jeritan sesama di sekitar kita. Dengan demikian kita bertumbuh dan berkembang
bersama menuju pintu harapan yang mulia yang menantikan kita semua di hari-hari
yang akan datang.
FOLLOW THE dilipost.com AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow dilipost.com on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram