dilipost.com
ADVERTISEMENT

Headlines News

Ads

Ekonomi

Video

Friday, 6 November 2026

Xanana Akan Mendukung Perempuan jadi Presiden Timor Leste

 

Perdana Menteri (PM), Kay Rala Xanana Gusmão Bersalaman dengan Sektretis Negara Urusan Perempuan (Foto: Media Xanana ba Ema Hotu

 

DILIPOST.COM - Perdana Menteri (PM), Kay Rala Xanana Gusmão, menyatakan bahwa ia secara pribadi akan mendukung seorang perempuan untuk menjadi Presiden Republik (PR) pada pemilihan presiden 2027, untuk memberikan kemenangan dan jalan baru bagi perempuan di Timor-Leste untuk memimpin negara.

 

“Saya secara pribadi akan mendukung perempuan untuk menjadi Presiden Republik,” demikian pernyataan Kepala Pemerintahan melalui pidatonya pada peringatan Hari Perempuan Nasional Timor-Leste ke-50, yang diadakan di Pusat Konvensi Dili (CCD), Jumat (06/11).

 

Dalam pidatonya, PM Xanana menyampaikan tiga poin yang harus dihormati dan dihargai. Kemerdekaan adalah hasil pengorbanan seluruh rakyat, perempuan dan laki-laki. Sejarah perjuangan pembebasan nasional tidak dapat ditulis secara lengkap tanpa mengakui kontribusi perempuan.

 

Di medan perang, operasi rahasia, dan diplomasi, perempuan bersama laki-laki menghadapi bahaya, kekerasan, pemenjaraan, dan pengorbanan. Mereka mendukung para pejuang, menyampaikan informasi, mengorganisir masyarakat, dan memperkuat semangat perlawanan.

 

Ia memberikan contoh pahlawan wanita almarhum Maria Tapó, yang menurut kesaksian sejarah gugur dalam perjuangan pada tanggal 3 November 1975.

 

Pernyataan Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão, yang menyatakan akan secara pribadi mendukung seorang wanita untuk menjadi Presiden Republik (PR), dianggap sebagai kabar baik bagi potensi perempuan di Timor-Leste.

 

Rektor Universitas Perdamaian (UNPAZ), Adolmando Soares Amaral, memberikan dukungan setelah Kepala Pemerintahan menyatakan dukungannya dalam peringatan Hari Perempuan Nasional di Pusat Konvensi Dili (CCD), Jumat (06/11).

 

Akademisi tersebut mencatat bahwa selama ini setelah berdirinya RDTL, hanya seorang pria yang menjabat sebagai Presiden Republik.

 

"Saya pikir pernyataan ini adalah kabar baik. Karena dari seluruh proses hingga saat ini Presiden adalah pria. Jika di masa depan kita bisa memiliki Kepala Negara perempuan, saya pikir itu bagus," katanya.

 

Konstitusi memberikan kebebasan kepada setiap orang, perempuan maupun laki-laki, untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Republik.

 

 "Ada juga banyak perempuan potensial di Timor. Kualitas banyak perempuan tidak kalah dengan laki-laki, tetapi mereka tidak mendapatkan kesempatan, karena para pemimpin nasional tidak pernah mendukung mereka," katanya.

 

Adolmando menegaskan bahwa, di Timor, setiap Presiden Republik yang tidak didukung oleh PM Xanana, akan sulit untuk menjadi Presiden. Oleh karena itu, jika Xanana menyatakan dukungan untuk perempuan, perempuan memiliki peluang besar untuk menjadi Kepala Negara.

 

Di sisi lain, mantan Menteri Kehakiman, Tiago Sarmento Amaral, menegaskan bahwa pernyataan Perdana Menteri tersebut merupakan ekspresi utama dari hak-hak politik setiap orang.

 

Karena hukum tidak melarang perempuan, Pasal 17 Konstitusi RDTL menjamin kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

 

Syarat untuk menjadi calon Presiden (PR) menurut Pasal 75 adalah warga negara Timor Leste asli, usia minimal 35 tahun, cakap hukum, dan menerima usulan dari 5.000 pemilih.

 

"Apakah ini berarti dukungan Xanana atau CNRT bukanlah syarat hukum. Dukungan hanyalah kekuatan politik, tetapi kekuatannya sangat besar," katanya.

 

Daftar Negara Paling Damai di ASEAN, Timor Leste Urutan Ketiga

 


DILIPOST.COM - Laporan Global Peace Index (GPI) 2026 menemukan bahwa tingkat perdamaian dunia terus mengalami tren penurunan. Konflik bersenjata disebut sebagai faktor utama penyebab kemunduran tersebut.

Laporan yang dirilis Institute for Economics & Peace tersebut memberi peringkat 163 negara dan wilayah independen berdasarkan tingkat perdamaiannya. Jumlah negara/wilayah yang diperingkat mencakup 99,7 persen populasi dunia.

Laporan ini menggunakan 23 indikator kualitatif dan kuantitatif untuk mengukur perdamaian di tiga domain: tingkat Keamanan dan Keselamatan Masyarakat, tingkat Konflik Domestik dan Internasional yang Berkelanjutan, dan tingkat Militerisasi.

Negara paling damai di dunia

Global Peace Index 2026 menempatkan Islandia (skor 1.161) sebagai negara paling damai di dunia untuk tahun ke-19 berturut-turut. Posisi Islandia yang luar biasa didukung oleh tidak adanya militer tetap, tingkat kejahatan yang sangat rendah, dan kohesi sosial yang kuat.

Posisi Islandia diikuti oleh Selandia Baru, Swiss, Slovenia, dan Irlandia.

Sementara itu, Rusia adalah negara yang paling tidak damai, diikuti Sudan, Republik Demokratik Kongo, Ukraina, dan Israel melengkapi lima negara terbawah.

Peringkat Asia Tenggara

Di level Asia Tenggara, Singapura memimpin di posisi pertama dengan skor (1.435). Dalam tingkat global, Singapura berada di peringkat ke-8 dari 163 negara, sekaligus mencatatkan diri sebagai negara Asia paling damai di dunia.

Berikut adalah urutan negara Asia Tenggara paling damai di dunia berdasarkan Global Peace Index 2026:

1. Singapura, skor 1.435

2. Malaysia, skor 1.513

3. Timor Leste, skor 1.681

4. Vietnam, skor 1.738

5. Laos, skor 1.846

6. Indonesia, skor 1.918

7. Kamboja, skor 2.075

8. Thailand, skor 2.089

9. Filipina, skor 2.092

10. Myanmar, skor 2.911


Tingkat kedamaian Indonesia merosot


Indonesia dan Thailand mencatat penurunan yang signifikan dalam hal perdamaian pada GPI 2026.

Skor keseluruhan Indonesia menurun sebesar 2,5 persen, turun ke peringkat 69 secara global. Merosotonya posisi Indonesia didorong oleh penurunan sebesar lima persen pada domain keamanan dan keselamatan, serta peningkatan pada indikator ketidakstabilan politik dan skala teror politik.

Thailand menurun sebesar 2,4 persen dan berada di peringkat 101 secara global,didorong oleh penurunan pada indikator dampak terorisme dan peningkatan jumlah kematian akibat konflik internal.

Singapura berada di posisi pertama di Asia Tenggara dengan skor 1.435. Itu juga berada di peringkat ke-8 dari 163 negara di seluruh dunia, dan itu adalah negara Asia paling damai di dunia.(*/red)

Tuesday, 3 November 2026

Ketika Layar Menggantikan Cermin

Oleh: Ricardo Sila

Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang


Di tengah kemajuan teknologi dewasa ini, media sosial tidak lagi sekadar alat komunikasi. Ia  tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat dielakkan lagi dari kehidupan manusia dan telah menjelma menjadi bagian terpenting dalam aktivitas sehari-hari. Media sosial telah menjadi “cermin palsu” yang membentuk identitas manusia modern. Atau seperti yang dikatakan Jean Baudrillard sebagai dunia hiperrealitas. Pengguna atas media sosial itu sendiri pun menuntut tanggung jawab moral agar manusia tidak terjebak dalam realitas semu.

Berdasarkan  laporan “DATAREPORTAL 2021”  melaporkan bahwa dari total  1,33  ribu penduduk di Timor Leste, 599,7 ribu penduduk telah menggunakan media sosial. Jumlah ini melonjak menjadi 742,4 ribu pengguna pada tahun 2024. Data ini menunjukkan peningkatan pengguna media sosial berlangsung pesat. Hal ini telah menjadi realitas yang tidak dapat dipungkiri dari kehidupan manusia zaman ini.

Data ini cukup menggambarkan realitas; banyak postingan dalam berbagai platform sosial media (Instagram, Tik-Tok, Facebook dll) dengan berbagai gaya. Ruang sosial media sebagai ruang bebas menghimpun dan merangkum semua postingan yang diunggah. Di dalamnya terdapat banyak konten edukasi, inspirasi, hiburan dan lain sebagainya. Tidak dipungkiri bahwa di tempat yang sama ada pula konten-konten yang berbau amoral, kurang etis dan hal negatif lainnya. Mengacu dari realitas ini, wajah dunia kita tampak jelas dibaluti dengan aroma hiperrealitas. Sadar atau tidak kita sedang berada dalam cengkeraman kecerdasan buatan (AI).

Hiperrealitas menurut Jean Baudrillard

Di era kejayaan teknologi komunikasi dan masa kecerdasan artifisial,  dunia telah mengalami transformasi yang signifikan. Telah tercipta sebuah realitas baru dengan meniru realitas itu sendiri (asli) bahkan melampaui realitas yang sebenarnya yang disebut hiperrealitas oleh Baudrillard. Kita tengah berada pada satu fase dimana kita tidak lagi menggunakan cermin untuk melihat keaslian diri, melainkan melalui layar gawai. Realnya hasil modifikasi dan konstruksi citra melalui layar tampak lebih elegan dan berkelas dibandingkan pantulan cermin yang terlihat  orisinal dan autentik, tetapi dianggap kurang menarik dan menawan.

Bagi Baudrillard fenomena sosial yang terjadi  pada masyarakat post modern, melalui iklan tentang barang yang dikonsumsi membentuk identitas atau citra diri seseorang. Ia melihat bahwa banyak orang  terlebih para konsumen ingin terlihat berbeda dan memiliki identitas yang menciptakan citra baru melalui produk tertentu. Realitas masyarakat konsumtif keberadaannya bukan diukur lagi dengan pikiran “Aku berpikir maka aku ada”  melainkan “Apa yang aku konsumsi itulah yang menentukan sia aku”. Nilai guna telah diganti dengan nilai simbolik. Objek yang dikonsumsi bukan karena nilai bergunanya dan harganya tetapi justru perannya dalam merekonstruksi identitas baru dan makna citra diri. Dengan  orientasi ini membawa manusia pada sikap konsumtif. Kita seolah dipaksa untuk membeli barang bukan karena butuh melainkan demi mengikuti trend. Sehingga kebutuhan itu,  bukan lagi kita yang menjadi subjek atas produk, tetapi justru objek yang menggantikan kita sebagai subjek, oleh karena mau mengikuti trend.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kita sedang hidup di dalam apa yang disebut Baudrillard sebagai hiperrealitas, dimana manusia lebih percaya pada citra dan simbol daripada kebenaran. Akibatnya, batas antara nyata dan fantasi, benar dan salah, serta asli dan palsu menjadi kabur. Dalam situasi ini, yang palsu bisa terlihat lebih nyata dan kebohongan tampaknya lebih benar daripada kebenaran sehingga berita palsu sering lebih dipercaya karena orang lebih tertarik pada penampilan dan pesan berita yang menarik daripada fakta sebenarnya. Karena itu perlu disikapi dengan bijak sehingga tidak ada spekulasi untuk mengacaukan orang lain menggunakan tanda terlebih dalam dunia maya.

 

Dampak Media Sosial

Dengan perkembangan teknologi saat ini, terdapat peluang bagi pengguna untuk berkembang di masa depan. Perlu diakui bahwa kemajuan teknologi sangat membantu manusia, terutama dalam mengakses informasi dengan cepat, mempermudah komunikasi dan konektivitas dengan keluarga, teman maupun rekan kerja, serta memfasilitasi pembelajaran dan edukasi, dan lain sebagainya. Media sosial juga menyediakan platform seperti Instagram, Tik-Tok, Facebook dll, bagi kita untuk menjalankan bisnis, mengekspresikan diri, dan berkreasi melalui berbagai konten digital. Maka dalam situasi ini kita ditantang untuk mengasah talenta dan kreativitas yang dimiliki agar dapat menghasilkan karya yang berkualitas, sebagai wujud partisipasi dan pemanfaatan peluang yang ditawarkan dunia digital secara optimal.

Sebaliknya selain adanya peluang, terdapat pula dampak negatif jika media sosial tidak digunakan dengan baik. Melihat generasi sekarang lahir dalam masa kejayaan Sosmed melalui Handphone, misalnya, telah memberi pengaruh yang cukup amat besar. Handphone seolah-olah menjadi “pengasuh” yang tulen bagi anak-anak dalam keluarga. Dampaknya pun acapkali memprihatinkan, misalnya membuat relasi humanis di antara sesama semakin melemah. Kurangnya komunikasi “face to face” dengan sesama, atau dengan slogan yang amat familiar “Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Handphone menjadi alat penghibur namun menurunkan daya kognitif anak pada masa pertumbuhannya ketika penggunaan lebih dari 7 jam/hari. Handphone juga menjadi sahabat yang setia tapi menimbulkan kecanduan sehingga menimbulkan sikap koruptif  atas waktu. Tak heran bahwa dewasa ini banyak anak yang  membuang banyak waktu dengan Handphone ketimbang membuang waktu untuk bermain dengan anak yang lain. Pada akhirnya anak lebih nyaman hidup sendiri ketimbang hidup dalam komunitas, sehingga menimbulkan proses eksplorasi diri anak terganggu dan menimbulkan kebingungan identitas (Erikson E.H 1968, Identity youth and Crisis). 

Tak jarang banyak kasus yang ditemukan misalnya, penyebaran informasi palsu (Hoaks). Berita itu dengan cepat beredar namun tidak benar. Maka terjadilah kesalahpahaman, kepanikan dan bahkan konflik dalam masyarakat. Cyberbullying (perundingan daring), di mana terjadi komentar negatif terhadap orang, pelecehan di media sosial, yang kemudian dapat melukai perasaan seseorang. Hal ini akan berdampak buruk pada kesehatan mental korban.  Fenomena ini pula menunjukkan bahwa manusia sedang hidup dalam persimpangan pilihan. Jika tidak dipilih dan ditanggapi dengan bijak maka manusia akan menjadi hamba bagi teknologi. Banyak orang di sekitar kita, atau mungkin kita sendiri masih belum bisa mengendalikan diri dalam menggunakan sosial media.

Percikan Refleksi Moral Gereja

Menghadapi situasi ini manusia dipanggil untuk menjadi agen perubahan yang bijak dalam menggunakan teknologi. Kehadiran teknologi  pada dasarnya netral, yang menentukan adalah bagaimana cara manusia menggunakannya. Manusia memiliki peluang untuk mengubah dunia dengan kemampuan yang dimiliki dan dibantu oleh teknologi yang ada. Dalam Laudato Si (no. 102) Paus Fransiskus menegaskan bahwa teknologi harus menjadi tanggung jawab moral agar tidak disalahgunakan supaya kemajuan ini bukan untuk  merusak dan mengeksploitasi alam serta kehidupan melainkan mengindahkan dan melestarikan dunia kita

Selain itu  Gereja juga menunjukkan perhatiannya terhadap perkembangan media, melalui dokumen Konsili Vatikan II, “Inter Mirifica” untuk mengapresiasi dan mengagumi penemuan-penemuan baru terkait  teknologi  oleh kecerdasan alam tercipta pada diri manusia. Dengan itu, ibunda Gereja menyambut penemuan-penemuan ini dengan gembira dan berusaha untuk menggerakkan manusia mencapai suatu komunikasi yang otentik dan orisinal  dalam media cetak, sinema, radio dll, dalam karya pewartaan kabar baik. Oleh karena itu sebagai makhluk sosial hendaknya manusia menjunjung tinggi nilai-nilai etis, moral (budaya, sosial dan agama) dan kebenaran (IM.4) , agar tidak menodai hak setiap orang atas suatu informasi dan mengetahui kewajiban-kewajiban penggunaan, supaya tidak melanggar hukum dan ketentuan moral yang ada dalam kompleksitas dunia kita.

Persoalan bukan ada pada media tetapi pada manusia. Pertanyaannya kembali kepada kita; apakah kita yang menguasai layar ataukah sebaliknya. Dengan ini kita semua diundang untuk menyebarluaskan pandangan-pandangan umum kita sesuai dengan  kebenaran, sehingga media komunikasi sebagai ruang publik yang hendaknya menjadi oase moralitas kita dalam mewartakan kebenaran, keadilan, edukasi dan etiket dalam menggunakan media. Mendiang Paus Fransiskus pernah berpesan bahwa, “ media sosial dapat memfasilitasi hubungan, tetapi juga dapat memicu permusuhan yang tidak berdasar. Secara moral, kita yang harus bertanya apakah postingan saya membangun jembatan atau justru membakar rumah sesama”.

Tentu seruan ini tidak hanya menjadi pedoman bagi orang-orang Katolik melainkan juga menjadi wadah bagi siapa saja untuk menimba nilai-nilai moral yang ada dan menjadikan warta gembira bagi  siapa saja serta bagi lingkungan sekitar kita.  Dengan demikian kita menjadi subjek kebenaran dan validitas informan bagi kehidupan manusia sehari-hari dan melestarikan keindahan  hidup itu sendiri, bukan menjadi subjek yang merusak alam dan mengeksploitasi kehidupan.

Kita sebagai orang beriman, kita diajak untuk menghidupi kebajikan Kristiani; kasih, sukacita, damai sejahtera, murah hati, rendah hati, damai sejahtera penguasaan diri, kesetiaan (bdk.Gal.5:22-23). Kita diajak pula untuk melihat nilai-nilai positif  dalam  menggunakan simbol dan lihai dalam mengunggah sosial media. Kita mesti berani mengatakan tidak kepada kecenderungan manusiawi kita dalam mengikuti trend. Bekerja untuk hidup yang layak lebih mulia daripada mengonsumsi suatu simbol yang hanya memberi kesenangan sesaat. Membantu mereka yang kurang mampu lebih mulia daripada menghimpun kekayaan hanya demi ego pribadi. Hidup berbaur dengan mereka yang kotor dan terpinggirkan lebih mulia daripada memasang standar ekonomi dalam kehidupan bersama. Hidup sederhana lebih mulia daripada memiliki segala hal dan menutup mata terhadap mereka yang menderita dan membutuhkan uluran tangan dari kita.  Berlaku adil dalam panggilan kita lebih mulia daripada serakah pada milik orang lain.

Akhirnya kita dipanggil untuk menentang nilai amoral, kurang etis dan hal-hal negatif lainnya dalam hidup kita. Kita dipanggil untuk mewartakan kebenaran dalam menggunakan sosial media. Berani membagikan dengan lemah lembut harapan yang ada dalam hati kita kepada orang lain. Hendaknya kita menggunakan telinga hati mendengarkan jeritan sesama di sekitar kita. Dengan demikian kita bertumbuh dan berkembang bersama menuju pintu harapan yang mulia yang menantikan kita semua di hari-hari yang akan datang.


Nah Itu Dia!!!

Teknologi

International

Entertainment


Opini

Lifestyle


Travel

Politik


Olahraga

© Copyright . dilipost.com | All Right Reserved

Develop by Micro IT .NET Technology